Kewajiban Etik Penerjemah Profesional

Oleh: Eki Qushay Akhwan 
Penerjemah Ultimaa

Suatu pekerjaan dapat disebut sebagai profesi jika orang-orang yang menekuni pekerjaan tersebut memiliki atau   mengikuti seperangkat norma atau standar perilaku tertentu dalam menjalankan pekerjaannya. Standar perilaku tersebut disebut sebagai kode etik.

Kode Etik. Illustration source: mdopatners.com
Kode Etik.
Illustration source: mdopatners.com

Dokter disebut sebagai profesi karena dokter di manapun tunduk dan patuh pada norma-norma dan standar perilaku yang meng-atur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menjalankan profesinya.

Penerjemah profesional pun demikian. Siapapun yang menguasai dua atau lebih bahasa mungkin bisa meng-aku sebagai penerjemah. Namun untuk dapat disebut sebagai penerjemah profesional, seseorang harus diuji dan disertifikasi oleh lembaga yang berwenang serta tunduk dan patuh pada kode etik yang mengatur profesinya.

Apa saja kewajiban etik penerjemah profesional?

  • Taat pada Hukum

Kewajiban etik pertama seorang penerjemah profesional adalah taat pada hukum.

Sebagai seorang warga negara, seorang penerjemah profesional tentu harus tunduk dan patuh pada hukum-hukum yang berlaku di negaranya. Bahkan, jika ia bekerja untuk klien-klien internasional, ia juga wajib tunduk dan patuh pada hukum-hukum yang berkaitan dengan pekerjaannya yang berlaku di negara tempat kliennya berada. Kode etik profesi penerjemah yang disahkan oleh Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) pada tahun 2013, misalnya, menempatkan “menjunjung tinggi dan menerapkan asas-asas Pancasila” sebagai sumber hukum tertinggi di Indonesia pada poin pertama  janji yang diucapkan oleh penerjemah profesional.

Dalam kaitan dengan ketaatan pada hukum ini, seorang penerjemah profesional dilarang menerjemahkan hal-hal yang isinya melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku, kecuali jika pekerjaan tersebut diminta oleh pihak-pihak yang berwenang dan penerjemah memperoleh perlindungan kekebalan hukum (poin 3a Janji Penerjemah dalam Kode Etik Profesi Penerjemah HPI).

Selain kedua hal itu, penerjemah profesional juga dilarang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan penerjemahan yang menempatkan dirinya dalam situasi benturan kepentingan, misalnya dalam kasus hukum di mana dia atau keluarganya merupakan salah satu pihak yang terlibat di dalamnya (poin 3c Janji Penerjemah dalam Kode Etik Profesi Penerjemah HPI).

  • Menjaga Integritas Profesi

Kewajiban etik kedua seorang penerjemah profesional adalah menjaga integritas profesinya.  Menjaga integritas  dilakukan oleh penerjemah profesional antara lain dengan:

(1) tidak menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan yang disyaratkan oleh pekerjaan tersebut.

Setiap penerjemah memiliki kemampuan yang berbeda-beda sesuai latar belakang, kemampuan, dan pengalamannya. Pekerjaan pe-nerjemahan juga sangat beragam dalam hal subjek, bahasa dan tingkat kesulitannya. Oleh karena itu, tidak semua pe-nerjemah mampu menerjemahkan semua hal. Penerjemah profesional dituntut untuk menjaga integritas profesinya dengan tidak menerima pekerjaan penerjemahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya.

(2) menjaga keakuratan makna dari bahan-bahan yang diterjemahkannya dari bahasa sumber sehingga tidak terjadi kesalahan makna, apalagi salah pengertian.

Karena integritas kebahasaan merupakan inti dari pekerjaan pe-nerjemah, maka penerjemah dituntut untuk menyampaikan makna dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran secara akurat, tepat (faithful), tidak berpihak (impartial) dan berterima secara kultural. Penerjemah profesional tidak boleh menambah atau mengurangi apalagi memanipulasi pesan yang terdapat dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran.

(3) menjamin kepentingan dan menghormati hak-hak klien yang terdapat di dalam bahan atau materi yang diterjemahkannya serta tidak mencampuri urusan antara klien dan pihak lain.

Penerjemah profesional menyadari bahwa di dalam bahan yang diterjemahkannya terdapat kepentingan klien, seperti kepenting-an bisnis, kepentingan hukum, kepentingan pribadi, dan lain-lain, yang jika diketahui oleh orang lain yang tidak berhak dapat merugikan kepentingannya. Kepentingan itu harus dijaga sedemikian rupa oleh penerjemah agar klien tidak dirugikan.

(4) menaati tenggat waktu penyerahan pekerjaan yang telah disepakati dengan klien.

Ketaatan pada tenggat waktu merupakan salah satu unsur pen-ting integritas seorang penerjemah profesional dalam hubungannya dengan klien. Ketidaktepatan waktu dapat berkonsekuensi serius dan merugikan bagi klien. Oleh karena itu, penerjemah profesional wajib menaati tenggat waktu penyelesaian pekerjaan yang telah disepakati dengan klien.

  • Menjaga Kerahasiaan/Konfidensialitas 

Kewajiban etik ketiga seorang penerjemah profesional adalah menjaga kerahasiaan atau konfidensialitas yang dipercayakan kepadanya oleh klien.

Bahan-bahan yang diterjemahkan kadang-kadang bersifat rahasia/konfidensial. Seorang penerjemah profesional wajib menjaga kerahasiaan informasi yang terdapat di dalam bahan yang diterjemahkannya jika klien menganggap informasi itu rahasia.

  • Jujur

Bersifat jujur adalah tuntutan lain kode etik yang wajib dipenuhi oleh seorang penerjemah profesional.

Kejujuran merupakan unsur penting dalam kode etik profesi. Seorang penerjemah profesional dituntut untuk jujur mengenai kua-lifikasi dan kemampuannya kepada klien atau calon klien. Daftar riwayat hidup, kartu nama, brosur, situs web dan lain-lain yang digunakan oleh seorang penerjemah profesional dalam memasarkan jasa dan keahliannya harus betul-betul mencerminkan secara tepat siapa dirinya dan apa yang mampu dilakukannya dalam kaitan dengan profesinya.

  • Terus-menerus Meningkatkan Kemampuan

Selain hal-hal di atas, seseorang yang menyebut dirinya seorang penerjemah profesional (dan telah memperoleh pengakuan untuk itu) secara etik memiliki kewajiban untuk terus-menerus meningkatkan kemampuannya sebagai seorang penerjemah.

Peningkatan kemampuan menjadi tuntutan profesi penerjemah karena dunia penerjemah-an berkait erat dengan perkembangan yang terjadi di bidang-bidang lain. Oleh karena itu, seorang penerjemah profesional dituntut untuk memperbarui  pengetahuannya dan mengikuti perkembangan yang terjadi pada bidang-bidang yang relevan dengan pekerjaannya, khususnya dalam bidang bahasa, teknologi, dan model bisnis penerjemahan.

Seorang penerjemah profesional dapat melakukan peningkatan kemampuannya dengan mengikuti kursus-kursus, menghadiri atau terlibat dalam forum-forum seminar dan diskusi yang berkaitan dengan profesinya, dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.