Penyuntingan dan Penyelarasan Akhir, Apa Bedanya?

Beberapa klien Ultimaa  bertanya, apa perbedaan penyuntingan (editing) dan penyelasaran akhir (proofreading atau proofing)? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami menulis artikel ini.

Dalam dunia tulis-menulis dan penerbitan, penyuntingan adalah proses pertama yang harus dilalui setelah sebuah  naskah selesai ditulis. Sedangkan penyelarasan akhir adalah proses terakhir sebelum suatu naskah diterbitkan atau dilepas kepada pembaca. Dari sisi ini saja, penyuntingan dan penyelarasan akhir jelas merupakan dua langkah yang berbeda dalam proses pengolahan naskah.

Namun bukan itu saja perbedaan penyuntingan dan penyelarasan akhir. Cakupan pekerjaan dalam kedua langkah itu juga berbeda. Berikut ini penjelasannya.

Penyuntingan

Penyuntingan secara umum adalah proses yang dilakukan untuk memperbaiki keterbacaan dan kualitas naskah. Untuk mencapai tujuan tersebut, ada tiga hal yang dilakukan oleh seorang editor atau penyunting naskah, yaitu (1) memeriksa struktur naskah, (2) menyunting bahasa dan gaya penulisan dan (3) memeriksa penyajiannya.

Pemerikasaan Struktur Naskah

Seorang penyunting memeriksa struktur naskah untuk memastikan bahwa naskah tersebut lengkap informasinya, lengkap unsur-unsurnya, serta tersusun sedemikian rupa sehingga naskah tersebut dapat dibaca dan diikuti alurnya oleh pembaca dengan mulus tanpa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu proses pembacaannya.

Sebagai pembaca kita barangkali pernah membaca suatu tulisan yang informasinya tak lengkap atau ada bagian yang terlewatkan sehingga kita dibuat bertanya-tanya apa maksud dari penulis. Hal itu tentu sangat mengganggu, bahkan bisa membuat kita tak lagi berminat melanjutkan membaca tulisan tersebut.

Selain kelengkapan informasi, hal lain yang diperiksa oleh penyunting pada tahap ini adalah kelengkapan unsur-unsur yang mempermudah pembaca memahami isi tulisan, seperti daftar isi, ilustrasi, glosarium, rujukan, serta alur logika struktur naskah itu sendiri .

Penyuntingan Bahasa dan Gaya Penulisan

Penyuntingan bahasa dan gaya penulisan dilakukan pertama-tama untuk memastikan bahwa bahasa yang dipakai sudah sesuai dengan jenis publikasi dan pembaca yang menjadi sasaran tulisan. Bahasa yang dipakai untuk naskah ilmiah, seperti jurnal, tesis atau disertasi, misalnya, memiliki konvensi-konvensinya sendiri yang tidak sama dengan bahasa yang dipakai untuk tulisan di surat kabar, majalah, atau bahkan buku. Ketika melakukan penyuntingan terhadap suatu naskah ilmiah, seorang penyunting tentu tidak akan membiarkan penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan konvensi naskah yang disuntingnya.

Selain memeriksa dan menyunting kesesuaian bahasa yang dipakai dengan jenis publikasi dan sasaran pembacanya, penyunting juga akan memeriksa penggunaan bahasa yang memengaruhi efektivitas komunikasi dan menghambat keterbacaan. Hal-hal seperti alur logika yang tidak runtut, ambiguitas makna, pengulangan yang tidak perlu, susunan kalimat yang janggal, pleonasme (redundasi) dan kontradiksi akan menjadi objek penyuntingan sang penyunting. Konsistensi nada dan gaya penulisan juga akan mendapat perhatian khusus dari penyunting pada tahap ini karena nada dan gaya penulisan yang tidak konsisten akan menyebabkan naskah menjadi tidak ramah pembaca.

Karena cakupan tugasnya yang demikian, seorang penyunting tidak hanya dituntut untuk menguasai ketrampilan berbahasa, namun juga memiliki pengetahuan khusus yang sesuai dengan subjek tulisan yang disuntingnya. Ini terutama berlaku untuk penyuntingan naskah-naskah bidang spesialis yang tidak dapat dikuasai kecuali oleh orang-orang yang telah memperoleh pendidikan khusus di bidang tersebut.

Pemeriksaan Penyajian

Pada tahap ini seorang penyunting berupaya memastikan bahwa naskah telah tersaji secara jelas dan efektif. Ia akan memeriksa apakah judul dan subjudul telah sesuai dengan isinya; ilustrasi, tabel, angka-angka dan rujukan telah sesuai dan ditempatkan pada tempat yang semestinya; dan penjelasan atas istilah, simbol dan singkatan telah ditempatkan sebagaimana mestinya di dalam teks maupun di glosarium.

Penyelarasan Akhir

Seperti disebutkan di awal tulisan ini, penyelarasan akhir adalah proses yang dilakukan terhadap draf akhir suatu naskah setelah proses penyuntingan dilakukan. Tujuan penyelarasan akhir adalah untuk memastikan bahwa naskah yang bersangkutan tidak mengandung kesalahan sama sekali. Seorang penyelaras akhir akan memusatkan perhatiannya pada kesalahan ejaan, ketidaktepatan penggunaan tanda baca, kesalahan cetak, dan kesalahan-kesalahan minor tata bahasa yang luput dari perhatian penyunting.

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa cakupan pekerjaan penyuntingan lebih luas ketimbang pekerjaan penyelarasan akhir. Namun demikian perlu dicatat bahwa kadang-kadang beberapa bagian pekerjaan penyuntingan juga ditangani oleh penyelaras akhir, khususnya bagian pemeriksaan penyajian. Sebaliknya, pekerjaan penyelarasan akhir juga dapat dikerjakan sekaligus oleh penyunting, terutama untuk pekerjaan-pekerjaan yang berskala kecil.

Di Ultimaa, pekerjaan penyuntingan dan penyelarasan akhir dianggap sebagai dua pekerjaan yang terpisah dengan tarif yang terpisah pula. Namun untuk pekerjaan-pekerjaan berskala kecil (kurang dari 30.000 kata), kami mengambil kebijakan bahwa tarif pekerjaan penyelarasan akhir mencakup juga pekerjaan pemeriksaan penyajian (pekerjaan penyuntingan bahasa dan gaya bahasa tetap dianggap sebagai pekerjaan terpisah dan dikenakan tarif terpisah).

Ringkasan

Dari tulisan di atas, dapat disimpulkan bahwa pekerjaan seorang penyunting mencakup hal-hal berikut:

  • Memeriksa dan menyunting kelengkapan informasi dan unsur-unsur naskah;
  • menyunting retorika, kalimat dan alinea agar naskah lebih mengalir dan mudah dibaca (ramah pembaca);
  • menggunakan pengetahuan spesialis yang dimilikinya untuk memperbaiki kualitas naskah dan memperjelas isi naskah.

Sedangkan pekerjaan penyelaras akhir mencakup hal-hal berikut:

  • Memeriksa dan mengoreksi ejaan, kapitalisasi dan tanda baca, kesalahan cetak dan kesalahan-kesalahan minor tata bahasa; dan
  • memastikan sedapat mungkin bahwa naskah sama sekali terbebas dari kesalahan.

Selamat Hari Penerjemahan Internasional 2016!

Hari ini, 30 September, adalah hari yang istimewa untuk para penerjemah dan dunia penerjemahan. Ya, 30 September adalah Hari Penerjemahan Internasional.

Poster resmi Hari Penerjemahan Internasional 2016 yang dikeluarkan oleh FIT.
Poster resmi Hari Penerjemahan Internasional 2016 yang dikeluarkan oleh FIT.

Seperti kami sebutkan dalam tulisan kami sebelumnya, tanggal 30 ditetapkan sebagai Hari Penerjemahan Internasional oleh Fédération Internationale des Traducteurs (FIT) atau Federasi Penerjemah Internasional. Ketetapan itu dibuat pada saat federasi itu didirikan pada tahun 1953. Tanggal 30 September dipilih karena tanggal itu adalah perayaan hari Santo Jerome, penerjemah Bibel yang dianggap sebagai santo-nya para penerjemah.

Perayaan Hari Penerjemahan Internasional tahun 2016 ini bertema “Translation and Interpretation: Connecting Worlds” (Penerjemahan dan Penjurubahasaan: Menghubungkan Dunia). Tema ini, yang kebetulan merupakan usulan dari American Translators’ Association (ATA), konon ditetapkan setelah menyaring usulan-usulan lain yang disampaikan oleh anggota-anggota Federasi.

Menurut situs web resmi FIT, inilah arti dari Connecting Worlds dalam tema perayaan tahun ini (kami kutip dan terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia):

“Dunia penerjemah dan dunia juru bahasa adalah dua profesi yang diabdikan pada satu tujuan: memfasilitasi komunikasi antar bangsa. Pada saat dunia semakin terintegrasi, pembinaan pemahaman antar penutur yang sangat banyak menjadi semakin penting dari masa-masa sebelumnya. Secara tertulis maupun lisan. Juru bahasa dan penerjemah berada di titik pertemuan yang memengaruhi perkembangan bisnis, ilmu pengetahuan, kedokteran, teknologi, hukum internasional, politik, dan sejumlah bidang-bidang lain. Kita memungkinkan masing-masing dunia ini untuk saling belajar demi kemaslahatan masyarakat secara umum. Membukakan dunia untuk kita semua adalah peran penerjemah dan juru bahasa dalam menghubungkan dunia.

Untuk menutup tulisan ini kami akan kutip surat Al Hujurat ayat 13 (QS 49:13) yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Kenal-mengenal dan saling memahami adalah salah satu tujuan Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa. Penerjemah dan juru bahasa adalah profesi yang memfasilitasi proses saling mengenal dan saling memahami itu.

Selamat Hari Penerjemahan Internasional, kawan-kawan penerjemah dan juru bahasa!

Istilah-Istilah Umum dalam Industri Penerjemahan (Bagian Pertama)

Oleh: Eki Qushay Akhwan 
Penerjemah Ultimaa

Diakui atau tidak, penerjemahan merupakan sebuah industri yang cukup signifikan besarannya. Data yang dikeluarkan oleh gala-global.org, misalnya, menyebutkan bahwa pada tahun 2016, omzet total industri bahasa (di mana penerjemahan dan pelokalan merupakan bagian utama di dalamnya) secara global diperkirakan berada pada angka 40 miliar dolar AS. Angka itu akan terus tumbuh dan diperkirakan akan mencapai kisaran angka 45 miliar dolar AS pada tahun 2020 dengan tingkat pertumbuhan diperkirakan antara 6,5 hingga 7,5 persen per tahun hingga tahun 2018. Angka-angka yang luar biasa bukan?

Sebagai sebuah industri, industri penerjemahan dan pelokalan memiliki istilah-istilahnya sendiri untuk menamai bidang-bidang atau sektor-sektor yang menjadi lahan garapannya. Berikut ini adalah beberapa istilah itu:

 

Agen Penerjemahan (Translation Agency)

Agen penerjemahan adalah agen yang menyediakan jasa penerjemahan dan mengelola proyek-proyek penerjemahan bagi klien. Istilah-istilah lain yang seringkali juga dipakai untuk menyebut agen penerjemahan adalah perusahaan penerjemahan atau agen pelokalan (localization agency). Agen penerjemahan biasanya juga menyediakan jasa penjurubahasaan (interpreting) dan layanan-layanan kebahasaan lain seperti penerjemahan situs web, perangkat lunak, dan aplikasi.

Meskipun istilah agen penerjemahan merupakan istilah yang masih umum dipakai hingga kini, sekarang ada istilah baru yang semakin populer penggunaannya di kalangan industri penerjemahan untuk menyebut agen penerjemahan, yaitu Penyedia Jasa Bahasa atau Language Service Provider (LSP).

Agen penerjemahan, perusahaan penerjemahan, agen pelokalan, atau penyedia jasa bahasa bisa berbentuk perusahaan (CV, PT) atau rekan (partners) seperti dalam sebuah firma hukum.

Penerjemahan, Penjurubahasaan, dan Penerjemahan di Tempat

Penerjemahan adalah perbuatan menerjemahkan makna dari suatu bahasa (bahasa sumber) ke bahasa lain (bahasa sasaran). Secara lebih spesifik, penerjemahan mengacu pada perbuatan menerjemahkan teks tertulis. Untuk penerjemahan lisan, istilah yang digunakan adalah penjurubahasaan (interpreting). Selain kedua istilah itu, ada juga istilah penerjemahan di tempat (sight translation). Penerjemahan di tempat dilakukan oleh seorang juru bahasa (interpreter) ketika dia diminta untuk menerjemahkan teks tertulis secara lisan dan langsung dengan membacakannya dalam bahasa sasaran.

Copywriting atau Transkreasi

Tugas seorang penerjemah adalah menerjemahkan secara tepat konten dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Sebagaimana dibahas dalam tulisan saya sebelumnya, seorang penerjemah profesional tidak diperbolehkan menambah, mengurangi, atau memanipulasi pesan di dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Karena keterikatan etik seperti itu, seorang penerjemah tidak bisa mengubah atau menyesuaikan pesan atau konten di dalam bahasa sumber secara kreatif ke dalam bahasa sasaran. Padahal, dalam situasi-situasi tertentu, seperti proyek-proyek penerjemahan multilingual yang berkaitan dengan pemasaran atau teks-teks persuasif, yang diperlukan justru adalah pembuatan copywriting. Dalam situasi seperti itulah muncul apa yang disebut dengan transkreasi (transcreation).

Transkreasi adalah menuliskan kembali teks yang diterjemahkan agar pesan yang terdapat di dalamnya menjadi lebih persuasif dan secara kultural lebih tepat dan berterima di lingkungan bahasa dan budaya sasaran. Kadang-kadang, bahasa dan budaya sasaran sangat berbeda dengan bahasa dan budaya sumber sehingga teks yang diterjemahkan dari bahasa sumber harus ditulis ulang sedemikian rupa agar suatu teks pemasaran, misalnya, menjadi lebih persuasif di dalam bahasa sasaran. Inilah yang disebut sebagai transkreasi.

Dengan definisi seperti itu, konsep transkreasi berkait erat dengan konsep copywriting, yaitu penulisan konten yang bersifat persuasif – biasanya untuk tujuan iklan atau pemasaran – yang akan dipublikasikan di media cetak, elektronik, mapupun media dalam jaringan (daring, online).

Pelokalan (localization)

Pelokalan (disebut juga sebagai L10n) adalah “proses penyesuaian suatu produk atau konten ke dalam suatu lokal atau pasar tertentu” (gala-global.org). Pelokalan melibatkan penerjemahan. Namun, penerjemahan bukanlah satu-satunya unsur di dalam proses pelokalan. Sebagaimana disebutkan oleh rujukan di atas, pelokalan melibatkan hal-hal lain, seperti:

  • menyesuaikan grafik ke pasar yang menjadi tujuan
  • memodifikasi konten agar sesuai dengan selera dan kebiasaan konsumsi pasar-pasar lain
  • menyesuaikan desain dan tata letak agar teks terjemahan dapat ditempilkan dengan baik
  • mengubah (mata uang, satuan ukuran) agar sesuai dengan kebutuhan lokal
  • menggunakan format lokal untuk penulisan tanggal, alamat, dan nomor telepon
  • melalukan penyesuaian dengan peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan hukum setempat

Tujuan pelokalan adalah untuk memberikan warna dan rasa lokal pada suatu produk.

Internasionalisasi (Internationalization)

Sebagai sebuah proses, internasionalisasi dapat dianggap sebagai pasangan dari pelokalan. Internasionalisasi (disebut juga dengan kependekannya I18N) secara sederhana dapat didefinisikan sebagai proses perancangan produk atau jasa sedemikian rupa agar produk atau jasa tersebut dapat disesuaikan dengan mudah ke dalam bahasa, budaya, atau wilayah tertentu tanpa melakukan perubahan-perubahan mendasar atas rancangan teknis dasarnya. Dengan kata lain, internasionalisasi adalah proses yang memudahkan terjadinya pelokalan.

Dengan definisi seperti itu, internasionalisasi sebenarnya tidak secara langsung termasuk ke dalam ranah tugas penerjemah. Namun internasionalisasi adalah proses yang memudahkan tugas penerjemah. Dalam proses perancangan suatu perangkat lunak, misalnya, internasionalisasi memisahkan desain program dengan proses pengembangan dokumentasinya sehingga ketika dokumentasi tersebut perlu diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, penerjemah tidak perlu masuk ke dalam kode sumber program.

Globalisasi

Dalam konteks industri bahasa dan penerjemahan, globalisasi (disebut juga dengan kependekannya G11n) mengacu pada “proses-proses dalam pengertian luas yang diperlukan untuk menyiapkan dan meluncurkan  produk dan kegiatan secara internasional” (gala-global.org). Di dalam konsep globalisasi tercakup proses internasionalisasi dan pelokalan yang merupakan bagian dari komunikasi multibahasa yang diperlukan dalam menyiapkan dan meluncurkan produk dan kegiatan ke kancah antarbangsa.

Demikian bagian pertama tulisan ini. Pada bagian berikutnya, saya akan mencoba mengulas lagi istilah-istilah lain yang berkaitan dengan industri penerjemahan dan pelokalan. Ikuti blog ultimaa.net agar Anda dapat terus mengikuti perkembangan terkini industri penerjemahan.

Kopdar Himpunan Penerjemah Indonesia Komisariat Jawa Barat September 2016

Dilaporkan oleh: Eki Qushay Akhwan 
Penerjemah Ultimaa

Siapa bilang penerjemah hanya bekerja di belakang meja dan tidak punya banyak waktu untuk bersosialisai? 🙂

"Yang kesasar ke Volendam ... :D" Foto bersama sebagaian anggota HPI Komisariat Jawa Barat yang hadir dalam acara Kopdar September 2016. Foto dari kamera mbak Lani Utoyo.
“Yang kesasar ke Volendam …” Foto bersama sebagaian anggota HPI Komisariat Daerah Jawa Barat yang hadir dalam acara Kopdar September 2016. Foto dari kamera kak Lani Utoyo.

Penerjemah juga manusia. Kami juga suka berkumpul, berbagi, dan ssttt ……… bergosip!

Kumpul-kumpul memang mengasyikkan. Apalagi kalau yang berkumpul adalah teman-teman seprofesi. Obrolan yang terjadi pasti bukan cuma soal apa dan siapa, tapi juga tentang hal-hal yang bermanfaat untuk profesi mereka. Kumpul-kumpul kolegial di antara teman-teman seprofesi konon memang merupakan salah satu cara terbaik untuk membangun solidaritas dan kerja sama profesi.

Nah, karena alasan itulah, Ricky Zulkifli, ketua baru HPI Komda Jawa Barat 2016 – 2019 yang terpilih pada tanggal 28 Agustus yang lalu, mengagendakan lagi acara kopdar (kopi darat) bulanan. Acara kopdar ini dulu pernah menjadi acara rutin HPI Komda Jabar, namun karena satu dan lain hal sempat terhenti. Kini acara itu dicoba dihidupkan lagi agar keakraban, solidaritas, dan kerja sama antaranggota bisa semakin terbangun dan keberadaan HPI sebagai organisasi profesi menjadi semakin solid.

Kopdar pertama di bawah kepemimpinan Ricky Zulkifli ini digelar di  Koffie Tijd, kedai kopi dan resto bernuansa Belanda di jalan Citarum nomor 30, Bandung, pada hari Ahad, 18 September yang lalu. Dari 18 orang yang menyatakan akan hadir di acara tersebut, 11 orang bisa hadir, termasuk satu rekan dari Depok yang sengaja menyempatkan diri datang ke Bandung dalam rangka acara kumpul-kumpul ini.

Kopdar (kopi darat), acara kumpul-kumpul santai anggota HPI Komisariat Jawa Barat.
Kopdar (kopi darat), acara kumpul-kumpul santai anggota HPI Komisariat Daerah Jawa Barat.

Acara santai yang berlangsung dari pukul 10:00 hingga sekitar pukul 15:00 WIB itu diisi dengan obrolan-obrolan santai khas penerjemah: tentang pengalaman-pengalaman pribadi sebagai penerjemah, tentang bahasa, tentang ide-ide untuk HPI dan profesi penerjemah, dan lain-lain. Untuk saya sendiri, acara itu adalah kesempatan untuk bertemu muka dengan  beberapa rekan penerjemah anggota HPI Komda Jabar yang selama ini hanya saya kenal nama dan fotonya dari Grup Facebook.

Acara kopdar berikutnya menurut rencana akan diadakan di Depok pada bulan Oktober dan dituanrumahi oleh rekan Sunu Tri Susatyo. Acara digelar di Depok agar rekan-rekan penerjemah di Priangan Barat (Bogor, Depok, Bekasi, dan lain-lain) bisa hadir dan ikut meramaikan acara ini.

 

 

Kewajiban Etik Penerjemah Profesional

Oleh: Eki Qushay Akhwan 
Penerjemah Ultimaa

Suatu pekerjaan dapat disebut sebagai profesi jika orang-orang yang menekuni pekerjaan tersebut memiliki atau   mengikuti seperangkat norma atau standar perilaku tertentu dalam menjalankan pekerjaannya. Standar perilaku tersebut disebut sebagai kode etik.

Kode Etik. Illustration source: mdopatners.com
Kode Etik.
Illustration source: mdopatners.com

Dokter disebut sebagai profesi karena dokter di manapun tunduk dan patuh pada norma-norma dan standar perilaku yang meng-atur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menjalankan profesinya.

Penerjemah profesional pun demikian. Siapapun yang menguasai dua atau lebih bahasa mungkin bisa meng-aku sebagai penerjemah. Namun untuk dapat disebut sebagai penerjemah profesional, seseorang harus diuji dan disertifikasi oleh lembaga yang berwenang serta tunduk dan patuh pada kode etik yang mengatur profesinya.

Apa saja kewajiban etik penerjemah profesional?

  • Taat pada Hukum

Kewajiban etik pertama seorang penerjemah profesional adalah taat pada hukum.

Sebagai seorang warga negara, seorang penerjemah profesional tentu harus tunduk dan patuh pada hukum-hukum yang berlaku di negaranya. Bahkan, jika ia bekerja untuk klien-klien internasional, ia juga wajib tunduk dan patuh pada hukum-hukum yang berkaitan dengan pekerjaannya yang berlaku di negara tempat kliennya berada. Kode etik profesi penerjemah yang disahkan oleh Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) pada tahun 2013, misalnya, menempatkan “menjunjung tinggi dan menerapkan asas-asas Pancasila” sebagai sumber hukum tertinggi di Indonesia pada poin pertama  janji yang diucapkan oleh penerjemah profesional.

Dalam kaitan dengan ketaatan pada hukum ini, seorang penerjemah profesional dilarang menerjemahkan hal-hal yang isinya melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku, kecuali jika pekerjaan tersebut diminta oleh pihak-pihak yang berwenang dan penerjemah memperoleh perlindungan kekebalan hukum (poin 3a Janji Penerjemah dalam Kode Etik Profesi Penerjemah HPI).

Selain kedua hal itu, penerjemah profesional juga dilarang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan penerjemahan yang menempatkan dirinya dalam situasi benturan kepentingan, misalnya dalam kasus hukum di mana dia atau keluarganya merupakan salah satu pihak yang terlibat di dalamnya (poin 3c Janji Penerjemah dalam Kode Etik Profesi Penerjemah HPI).

  • Menjaga Integritas Profesi

Kewajiban etik kedua seorang penerjemah profesional adalah menjaga integritas profesinya.  Menjaga integritas  dilakukan oleh penerjemah profesional antara lain dengan:

(1) tidak menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan yang disyaratkan oleh pekerjaan tersebut.

Setiap penerjemah memiliki kemampuan yang berbeda-beda sesuai latar belakang, kemampuan, dan pengalamannya. Pekerjaan pe-nerjemahan juga sangat beragam dalam hal subjek, bahasa dan tingkat kesulitannya. Oleh karena itu, tidak semua pe-nerjemah mampu menerjemahkan semua hal. Penerjemah profesional dituntut untuk menjaga integritas profesinya dengan tidak menerima pekerjaan penerjemahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya.

(2) menjaga keakuratan makna dari bahan-bahan yang diterjemahkannya dari bahasa sumber sehingga tidak terjadi kesalahan makna, apalagi salah pengertian.

Karena integritas kebahasaan merupakan inti dari pekerjaan pe-nerjemah, maka penerjemah dituntut untuk menyampaikan makna dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran secara akurat, tepat (faithful), tidak berpihak (impartial) dan berterima secara kultural. Penerjemah profesional tidak boleh menambah atau mengurangi apalagi memanipulasi pesan yang terdapat dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran.

(3) menjamin kepentingan dan menghormati hak-hak klien yang terdapat di dalam bahan atau materi yang diterjemahkannya serta tidak mencampuri urusan antara klien dan pihak lain.

Penerjemah profesional menyadari bahwa di dalam bahan yang diterjemahkannya terdapat kepentingan klien, seperti kepenting-an bisnis, kepentingan hukum, kepentingan pribadi, dan lain-lain, yang jika diketahui oleh orang lain yang tidak berhak dapat merugikan kepentingannya. Kepentingan itu harus dijaga sedemikian rupa oleh penerjemah agar klien tidak dirugikan.

(4) menaati tenggat waktu penyerahan pekerjaan yang telah disepakati dengan klien.

Ketaatan pada tenggat waktu merupakan salah satu unsur pen-ting integritas seorang penerjemah profesional dalam hubungannya dengan klien. Ketidaktepatan waktu dapat berkonsekuensi serius dan merugikan bagi klien. Oleh karena itu, penerjemah profesional wajib menaati tenggat waktu penyelesaian pekerjaan yang telah disepakati dengan klien.

  • Menjaga Kerahasiaan/Konfidensialitas 

Kewajiban etik ketiga seorang penerjemah profesional adalah menjaga kerahasiaan atau konfidensialitas yang dipercayakan kepadanya oleh klien.

Bahan-bahan yang diterjemahkan kadang-kadang bersifat rahasia/konfidensial. Seorang penerjemah profesional wajib menjaga kerahasiaan informasi yang terdapat di dalam bahan yang diterjemahkannya jika klien menganggap informasi itu rahasia.

  • Jujur

Bersifat jujur adalah tuntutan lain kode etik yang wajib dipenuhi oleh seorang penerjemah profesional.

Kejujuran merupakan unsur penting dalam kode etik profesi. Seorang penerjemah profesional dituntut untuk jujur mengenai kua-lifikasi dan kemampuannya kepada klien atau calon klien. Daftar riwayat hidup, kartu nama, brosur, situs web dan lain-lain yang digunakan oleh seorang penerjemah profesional dalam memasarkan jasa dan keahliannya harus betul-betul mencerminkan secara tepat siapa dirinya dan apa yang mampu dilakukannya dalam kaitan dengan profesinya.

  • Terus-menerus Meningkatkan Kemampuan

Selain hal-hal di atas, seseorang yang menyebut dirinya seorang penerjemah profesional (dan telah memperoleh pengakuan untuk itu) secara etik memiliki kewajiban untuk terus-menerus meningkatkan kemampuannya sebagai seorang penerjemah.

Peningkatan kemampuan menjadi tuntutan profesi penerjemah karena dunia penerjemah-an berkait erat dengan perkembangan yang terjadi di bidang-bidang lain. Oleh karena itu, seorang penerjemah profesional dituntut untuk memperbarui  pengetahuannya dan mengikuti perkembangan yang terjadi pada bidang-bidang yang relevan dengan pekerjaannya, khususnya dalam bidang bahasa, teknologi, dan model bisnis penerjemahan.

Seorang penerjemah profesional dapat melakukan peningkatan kemampuannya dengan mengikuti kursus-kursus, menghadiri atau terlibat dalam forum-forum seminar dan diskusi yang berkaitan dengan profesinya, dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

 

Selamat Datang di Rumah Baru Ultimaa

Ultimaa memang nama baru di dunia penerjemahan Indonesia. Namun orang-orang yang berada di balik nama itu bukan pemain-pemain baru di dunia penerjemahan. Gagasan tentang pembentukannya pun telah cukup lama dirancang dan dibicarakan. Alhamdulillah, tahun ini gagasan itu menjadi kenyataan.

Kami sengaja memilih bulan September untuk meluncurkan dan memperkenalkan Ultimaa kepada Anda karena bulan ini adalah bulan yang istimewa untuk para penerjemah. Tanggal 30 September adalah Hari Penerjemahan Internasional (International Translation Day).

Tanggal 30 September ditetapkan sebagai Hari Penerjemahan Sedunia oleh Federasi Penerjemah Internasional (Perancis: Fédération Internationale des Traducteurs, Inggris: International Federation of Translators) untuk menunjukkan solidaritas antar komunitas penerjemah, mengangkat harkat penerjemahan sebagai suatu profesi, dan meningkatkan profesionalisme penerjemahan sebagai suatu disiplin keahlian.

Ultimaa digagas oleh beberapa penerjemah profesional di Bandung sebagai suatu kelompok atau jejaring kerjasama yang bertujuan untuk memberikan layanan terbaik kepada para pengguna jasa penerjemah. Selain itu, dalam jangka panjang, kami juga i-ngin agar Ultimaa tidak hanya menjadi tempat di mana Anda dapat menemukan penyedia jasa penerjemahan yang andal dan berkualitas, namun juga menjadi wahana pendidikan dan pelatihan tempat para penerjemah profesional berbagi pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman mereka dengan para penerjemah muda dan calon-calon penerjemah.

Sebagaimana layaknya bangunan yang baru berdiri, rumah Ultimaa tentu masih memiliki banyak kekurangan. Rumah Ultimaa memang telah kokoh berdiri. Atap serta pintu telah terpasang pada tempatnya. Dinding pun telah dicat dengan warna yang menarik. Namun demikian, kami sadari sepenuhnya bahwa perlengkapan rumah kami masih perlu ditambah, ditata dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga tamu-tamu kami bisa merasa nyaman dan terlayani dengan baik di rumah kami. Itu menjadi pekerjaan rumah dan prioritas kami dalam waktu dekat ini.

Meskipun rumah kami belum sempurna, kami yakin sepenuhnya bahwa kualifikasi, pengalaman, dedikasi dan komitmen para penghuni rumah kami sebagai penerjemah dan ahli bahasa profesional telah siap menyambut, membantu dan memberikan layanan penerjemahan terbaik kepada Anda, karena kepuasan Andalah tujuan utama keberadaan kami.

Selamat datang di rumah (baru) Ultimaa!